Google

Friday, March 13, 2009

Andai Rasul berkunjung ke rumah kita sehari... (Sebuah renungan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW)

Berikut ini adalah materi khutbah Jum'at saya pada Tanggal 13 Maret 2009 di Masjid Al Jamiah, Gadingan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Karena masih berdekatan dgn hari peringatan Maulid nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 9 Maret 2009, maka tema yang saya pilih juga berkaitan dengan hal tsb.
Selamat membaca, smoga menjadi tausiyah yang berharga bagi kita smua.


1. Puji syukur kehadirat Allah :

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nahl: 18)

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur [1016]. (QS Al-Mu'minun:78)

[1016] Yg dimaksud dengan bersyukur di ayat ini = menggunakan alat2 tsb untuk memperhatikan bukti2 kebesaran & keesaan Tuhan, yg dpt membawa mereka beriman kpd Allah s.w.t. serta taat & patuh kepada-Nya. kaum musyrikin memang tidak berbuat demikian.

2. Bershalawat kepada Nabi SAW:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya [1230]. (QS. Al Ahzab (33) : 56)

[1229] Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad. [1230] Dengan mengucapkan Perkataan seperti: Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.

3. Ibadallah ! Saya wasiatkan kepada jamaah sekalian dan juga kepada saya pribadi untuk selalu bertaqwa & meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah di mana saja kita berada. Dan janganlah kita mati melainkan dalam Islam.

Jamaah Jumat yg sama2 mengharapkan rahmad & ampunan Allah SWT..
Pada kesempatan kali ini, Masih dlm suasana memperingati maulid/ kelahiran Nabi Muh SAW, khotib ingin mengajak kpd diri kami pribadi dan jamaah Jum’at skalian utk melakukan introspeksi diri, apakah yg tlh kita lakukan dlm kehidpn kita sbg orang Islam shg kita layak untuk disebut sbg umat/pengikut Nabi Muh, SAW.

Rasul bersabda bahwa barangsiapa menghidupkan sunahnya, sesungguhnya dia mencintai Rasulnya, dan barangsiapa mencintai Rasul, sungguh dia akan bersama-sama dengan Rasul di dalam Surga.

Pernyataan Baginda Rasul ini sangat memotivasi jiwa umatnya untuk dapat bersama beliau di dalam Surga dengan segala kenikmatan yang tiada tara, Kita sering mendengar informasi ini dari Al Quran atau Hadist Nabi. Rasanya kita ingin lebih cepat meraih kenikmatan itu. Dan ujung-ujungnya muncul rasa rindu dan rasa cinta yang sangat mendalam kepada Baginda Rasulullah. Namun, kita tanyakan kepada kalbu kita masing2, Apakah sudah pantas diriku ini bersanding bersama Rasul ?

Dalam kesempatan yg lain, Rasullullah Muhammad SAW juga bersabda : “Barang siapa yg menghidupkan sunnahku disaat terjadi kerusakan pada ummatku maka baginya pahala seseorang yang mati syahid.”

Hadits ini menyadarkan kita akan pentingnya kembali pada kehidupan Islami & menghidupkan sunnah Nabi saw. terutama di saat ummat mulai cenderung & terpedaya dengan segala gaya hidup yang tidak berasal dari nilai-nilai Islam. Hal tersebut mengakibatkan ummat Islam tidak lagi memiliki jati diri, dan kecintaannya kepada Nabi Saw sebagai suri teladan, larut sedikit demi sedikit, berganti mengikuti gerak dan gaya masyarakat yang jahiliyah,

Melalui Khutbah ini khotib mengingatkan kita smua akan sosok pribadi agung Baginda Rasulullah Muh SAW yg kita cintai, & patut kita jadikan suri tauladan serta kita harapkan syafaatnya slalu.

Ma'asyiral Muslimin rahima kumullah ... Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!
Sekarang marilah kita Bayangkan andaikata Rasulullah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan?

Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau dan mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita untuk melepaskan rasa rindu yang sudah lama dipendam. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar beliau sudi menginap beberapa hari di rumah kita untuk bercerita dengan tutur kata yang lembut, mengajarkan kepada kita tentang Islam, sopan santun, ilmu dan hikmah.

Tapi barangkali sambutan kita justru sebaliknya, Kita meminta beliau menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat video CD rated R18+ / ”Triple X” yang ada di ruang tengah, bercampur dengan beraneka VCD yang sebagian besar bergambarkan wanita terbuka setengah auratnya dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke ruang dalam/ ke gudang belakang.

Atau barangkali kita teringat akan lukisan/kalender wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, patung2 kesayangan, keris kesaktian, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke gudang belakang.

Barangkali kita akan segera memindahkan lafal kaligrafi Allah dan Muhammad yang biasanya berada didekat dapur dalam keadaan berdebu dan memindahkan/memasangnya ke ruang tamu.

Bagaimana bila kemudian beliau Nabi Muh SAW sudi menginap di rumah kita, walaupun hanya satu malam?

Barangkali kita teringat bahwa diri kita/ keluarga kita/anak2 kita lebih hapal lagu-lagu Spice girls, Slank, campur sari/campur saru atau tembangnya Beattle atau Rollingstone dibanding hapalan Sholawat kepada Rasulullah, apalagi hafalan ayat2 Al Quran.

Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah atau sirah nabi yang menceritakan perjalanan hidup beliau.

Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan para sahabat beliau tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Power Ranger atau Doraemon, ninja Hatori, dll.

Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar menjadi ruang musalla, karena beliau sangat menyenangi sholat yang berjam-jam diwaktu malam.

Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita(Ibu/istri/putri2) tidak memiliki koleksi jilbab/pakaian muslimah yang pantas dipakai sewaktu berhadapan dengan beliau untuk mendengarkan petuah-petuah beliau. Belum lagi koleksi buku-buku kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi kaset kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi karaoke kita dan anak-anak kita.

Kemana kita harus meyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita? Karena bisa jadi gudang-gudang di belakang sudah pada penuh oleh barang2 .

Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita jarang ke masjid, mana tau nanti beliau menanyakan siapa nama penjaga mesjid kampung kita, karena beliau sangat perhatian terhadap orang-orang seperti itu.

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga kita sibuk di depan TV, karena sinetronnya sayang untuk diliwatkan.

Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan sholat sunnah, apalagi puasa sunah.

Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca AlQuran, tapi asyik membaca koran/majalah dan menonton TV- hingga AlQuran terlihat rapi dan bersih diantara buku-buku di rak buku kita.

Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita, dan tidak berperilaku baik kpd tetangga.

Barangkali kita menjadi malu jika beliau Nabi Muh SAW menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.

Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah!

Bayangkan andaikata Rasulullah tiba-tiba muncul di depan pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan?

Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilakan beliau masuk dan menginap di rumah kita?

Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung & menginap ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu. Karena perilaku kita, kehidupan kita sehari2 masih jauh dari layak untuk disebut sebagai pengikut nabi Muhammad SAW.

Wallahu alam bissawaf..

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab(33):21)

Marilah melalui peringatan maulid nabi kita berusaha sekuat tenaga kita untuk dapat terus mengikuti suri tauladan beliau, menghidup2kan sunah beliau dlm sisa umur yg ada pd kita, shg sesuai sabda nabi diawal khutbah tadi, kita layak mendptkan pahala seseorang yang mati syahid dan kelak akan berkumpul bersama-sama dengan Rasul Muh SAW di dalam Surga”. ... Amin ya Robbal Alamin...

Labels: , , , ,

Tuesday, February 12, 2008

Materi Khutbah Jum'at ku yg ketiga kalinya di Masjid Al Jama', Gadingan, 8 Februari 2008

Harga Mahal Sebuah Hidayah

Jamaah Jum’at Yg di rahmati Allah.

Pertama2 dan yg paling utama, marilah kita panjatkan Segala puji syukur bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang senantiasa mencurahkan berbagai macam ni'mat dan karuniaNya, dari langit dan bumi, kepada kita semua .. ni'mat dan karuniaNya yg sangat berharga adalah kita mendapatkan hidayah Iman & islam, Yg dapat menyelamatkan kita dalam hidup di dunia & akhirat.


Yang kedua, marilah tidak hentinya pula kita panjatkan Sholawat dan salam semoga selalu tersanjung kepada Nabi Muhammad SAW juga kepada para keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap teguh dan istiqomah memegang teguh ajaran /melaksanakan sunah2 beliau hingga akhir zaman.

Sebagai khotib pengganti, perkenankan kami mengajak pd diri pribadi dan jamaah Jum’at skalian untuk terus menerus meningkatkn keimanan dan ketakwaan kita kpd Allah SWT, dengan sebenar2nya takwa, meningkat dari waktu ke wktu, dari 1 jum’at ke jum’at berikutnya, dari 1 Ramadhan ke Rmdhn berikutnya, hingga ajal kita menjemput, dan kita tergolong orang2 yg meninggal dlm keadaan khusnul khotimah… Allahumma Amin.

Jamaah Jum’at Yg di rahmati Allah.

Dalam ruangan yang serba gelap, untuk membedakan mana tongkat dan mana ular, setidaknya diperlukan dua hal; kemampuan mata dan cahaya dari luar.

Mata bisa melihat, tetapi bila tak ada cahaya tentu tidak akan jelas bentuk benda-benda di sekitar. Begitupun sebaliknya,

walau cahaya di sekitar terang-benderang, bila mata kita buta, segala yang nampak jadi tidak kelihatan.

Ada kisah dua orang yang mendalami ilmu agama. Yang satu rumahnya jauh dari masjid, dan yang lain lebih dekat. Ketika adzan dikumandangkan, yang jauh bergegas menuju masjid. Ia bisa datang dan masuk ke masjid lebih awal, kemudian shalat sunnah, duduk dan berdzikir, dan bisa mengikuti shalat jamaah. Namun orang yang berdekatan dengan masjid, ketika adzan dikumandangkan, masih bersantai-santai di rumah, akhirnya ia masuk / baru tiba di masjid setelah iqamat. Ia kehilangan kesempatan shalat sunnah.

Mengapa terjadi demikian? Padahal kedua orang ini sama-sama mengetahui keutamaan shalat berjamaah dan paham akan kemurkaan Allah kepada orang yang tidak shalat berjamaah. Ada perbedaan memang antar keduanya. Orang yang jauh dari masjid memiliki dua cahaya, cahaya wahyu dan cahaya hidayah. Yang satunya hanya punya cahaya wahyu semata. Hidayah belum mengejawantah dalam dirinya.

Jamaah Jum’at Yg di rahmati Allah.

Banyak orang yang tahu tentang ilmu agama, namun banyak pula yang tak menjalankan apa yang telah diketahuinya itu. Mereka belum mendapatkan hidayah. Mahal memang harga hidayah. Dan ini berkait dengan pribadi orang yang bersangkutan. Seseorang boleh berupaya sekuat tenaga untuk mengantarkan orang lain mendapatkan hidayah. Tetapi kalau Allah tidak menghendaki, dalam arti secara pribadi orang yang bersangkutan belum memiliki kesiapan, maka usaha itu akan terhenti di tengah jalan.

  • Nabi Nuh AS berdakwah kepada keluarga dan kaumnya selama beratus-ratus tahun, namun hanya beberapa orang saja yang mau mengikuti risalahnya. Bahkan anak dan istrinya termasuk dari orang-orang yang menentang.
  • Nabi Ibrahim AS berkali- kali mengajak ayahandanya agar tunduk pada Allah Sang Pencipta, namun sang ayah tetap pada pendiriannya, menyembah patung yang dibuatnya sendiri.
  • Begitu juga Rasulullah saw, beliau tidak bosan-bosan mengharap pamannya agar mengucapkan kalimat 'Laa ilaaha illallah', namun sampai akhir hayatnya, Abu Thalib tidak mengucapkan kalimat thayyibah itu.


Memang hidayah itu hanya milik Allah. Dialah yang akan menurunkannya kepada yang Dia menghendaki. Wewenang dan tugas manusia (nabi, ulama/kyai/dai) hanyalah mengajak, memberikan pengertian dan pemahaman, alias memberi jalan masuknya hidayah. Selanjutnya sudah dalam wilayah wewenang Allah swt.

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petjk kpd orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang2 yg mau menerima petunjuk." (QS al-Qashash: 56)

Jamaah Jum’at Yg di rahmati Allah.

Hidayah atau petunjuk Allah mesti kita cari untuk mendapatkannya. Tak bisa hidayah itu datang dengan tiba-tiba, tanpa adanya usaha keras untuk meraihnya. Untuk memperoleh hidayah diperlukan perjuangan.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunnah -sunnahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa bila dibutuhkan.
Dengan begitu niscaya Allah akan menurunkan petunjuk-Nya. Firman Allah;

"Katakanlah, taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul, dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan dengan terang." (QS An-Nur: 54)

"Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS al-Ankabut: 69)

Memang berat untuk mendapatkan hidayah. Tetapi sebagai sebuah perjuangan, hal itu wajar. Sesuatu yang bernilai tinggi, tidak akan diberikan secara gratis. Tetapi setelah didapat dan bisa dipertahankan, maka hasilnya sungguh luar biasa. Hidayah itulah kunci selamat dari gelapnya kehidupan. Dalam al-Qur'an, Allah swt beberapa kali mengabarkan bahwa ada segolongan manusia yang sampai kapan pun tak akan pernah diberi petunjuk, walaupun sangat diharapkan. Di antaranya memang telah Allah sesatkan. Lalu Allah biarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatannya. Tak seorang pun yang akan memberi petunjuk dan mampu untuk menolongnya.

"Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong." (QS an-Nahl: 37)

Jamaah Jum’at Yg di rahmati Allah.
Ada pula segolongan manusia yang Allah tidak berkenan memberikan petunjuk-Nya. Mereka adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, orang-orang zhalim yang selalu mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, dan mereka yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.

Ada juga yang Allah sesatkan berdasarkan ilmu pengetahuannya, kemudian Allah mengunci mati hati dan pendengarannya, membutakan kedua matanya. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang jelas, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olok saja. Mereka orang-orang yang akan merugi dikarenakan telah lupa dengan diri mereka sendiri. Dan di akhirat kelak mereka akan tertunduk lesu sebagai orang-orang yang kalah:

"Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.' Ingatlah sesungguhnya orang-orang yang zhalim berada dalam adzab yang kekal." (QS asy-Syuura: 45)

Orang-orang yang telah disesatkan Allah, tiada seorangpun yang mampu menolongnya dari kesesatan itu. Kita berlindung kepada Allah dari katagori kelompok orang-orang zhalim ini, kelompok yang merugi dan akan mendapatkan azab kehinaan dari Allah 'Azza wa jalla.


…(Doa sbelum duduk)…

==========================================================

…(Doa pembuka khutbah II)…

Jamaah Jum’at Yg di rahmati Allah.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya. Hidayah diberikan kpd orang2 yg bersungguh2 mencarinya.

Untuk itu Khatib mengajak kita jamaah utk bersgh2 mencari hidayah Allah dgn byk mempelajari tuntunan hidup kita= Al Quran & Al Hadist, memperbyk amal2 sholih, melakukan hal2 yg disukai/ hal2 yg dihalalkan Nya, meninggalkan hal2 yg dilarang/ diharamkan Nya, menghindari hal2 yg subhat. Dll.

Hidayah tidak dapat dicari melalui tontonan2 yg ada di Masyarakat. Masyarakat kita saat ini belajar banyak dari apa yang mereka lihat, mereka dengar, semua proses belajar dari pengalaman sangat baik di serap oleh masyarakat. Sayang, materi ‘pengalaman’ yang diserap mayoritas masyarakat adalah pengalaman amoral, lebih banyak berprasangka dan pembodohan –pembodohan terselubung. Pacaran, free sex, kumpul kebo, selingkuh…Lihat saja perlombaan hura-hura yang digelar dari mulai lomba joged paling nginul, fashion, poco-poco, dan parahnya, para ibu-ibu yang tak lagi berbody ABG justru yang paling banyak. Bila para ibunya begitu, bagaimana para anak gadis dan jejakanya??? Masyarakat bawah lebih senang nuansa grubyak-grubyuk daripada nuansa-nuansa arif dan bersahaja. Mereka belajar dari siapa??? Selebritis dan para tokoh, tentunya! bukan dari tuntunan mereka... Al Qur'an dan Al Hadist.

Akhirnya Marilah dalam sikap duduk sempurna & perasaan hati yg khusuk & penuh harap, kita memohon Kpd Allah agar kita termsk Orang-orang yang mendpt hidayah & tidak termsk Orang-orang disesatkan Allah, orang-orang yang merugi, yg dikunci mati hati dan pendengarannya, dibutakan kedua matanya dari ayat2 Allah.


…(Doa penutup khutbah II)…



Labels: ,

Friday, January 18, 2008

Materi Khutbah Jum'at yg kedua kalinya di Masjid Al Jama' Gadingan, Desember 2007

HATI-HATI LAH DENGAN WAKTU LUANG

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk lebih memilih jalan yang gampang/ringan/ menurun daripada jalan yang sukar/berat/mendaki. Lebih memilih santai ketimbang banyak kerja. [QS. Al Balad (90) : 11]

10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan [Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan],

11. Tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.

12. Tahukah kamu Apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?

13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,

14. Atau memberi Makan pada hari kelaparan,

15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,

16. Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.

17. Dan Dia (tidak pula) Termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

Santai pada timbangan yang proporsional memang bagus. Karena itu bermakna istirahat. Dari istirahatlah keseimbangan baru bisa lahir. Dengan istirahat, lelah bisa tergantikan dengan kesegaran baru.

Tapi ketika santai tidak lagi proporsional, yang muncul adalah hura-hura dan kemalasan. Orang menjadi begitu hedonis. Orientasinya bergeser dari keimanan kepada serba kesenangan. Pada saat itu, santai tidak cuma menggusur jenuh, tetapi juga kewajiban-kewajiban. Bisa kewajiban sebagai suami, anak, warga masyarakat, juga sebagai hamba Allah SWT.

Perjalanan waktu yang kita lalui selama tahun 2007 lalu penuh dengan hari-hari libur dan cuti bersama. Di bulan Oktober, 2 minggu lamanya (bahkan lebih) libur Hari Raya Idul Fitri, lalu pada bulan Desember ini pun sejak tanggal 20 – 26 Desember 2007, dilanjutkan dengan tanggal 31 Desember 2007 sebagai libur kejepit pergantian tahun 2008.

Diantara ciri orang beriman diantaranya adalah berhati-hati dengan perbuatan yang sia-sia. Allah SWT berfirman [QS. Al Mu’minun (23) : 1-3]

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,


Rasulullah SAW telah mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang. Beliau bersabda, ”Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhori).

Apabila kita diberi nikmat sehat dan waktu senggang tapi digunakan untuk sesuatu yang tidak berguna maka akan sangat merugilah kita sebagai orang beriman.

Rasulullah SAW juga telah bersabda, ”Salah satu tanda kebaikan dari keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”.


Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh

Letih dan jenuh kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai.

Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan sholat sunah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian mereka menunaikan shalat malam.

Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Bukan dengan asyik sendirian menikmati hiburan, pergi kesana kemari sendiri, lalu pulang ke rumah menjadi masalah dengan istri dan anak2. Rasulullah SAW pernah lomba lari dengan Aisyah RA. Kerap juga bermain ”kuda-kudaan” bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santai bukan sekedar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.

Rasulullah SAW mengatakan, ”Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)

Ada pihak lain yang mengintai kelengahan kita

Pertarungan antara hak dan batil tidak kenal istilah damai. Pertarungan akan tetap dan terus berlangsung hingga kita mati/ hingga hari kiamat tiba. Dari situlah, saling mengintai dan saling mengalahkan menjadi hal lumrah. Dan kewaspadaan menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan.

Pihak yang jelas-jelas melakukan pengintaian dan berusaha mengalahkan manusia adalah iblis dan para sekutunya yang merupakan musuh abadi manusia. Allah SWT telah membocorkan hal itu dalam firman Nya [QS. Al A’raaf (7): 16-17]

16. Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).


Pihak lain adalah kelompok manusia yang tidak suka dengan perkembangan Islam. Mereka selalu mengintai kelemahan umat Islam, mengisi rumah-rumah umat Islam dengan hiburan yang melalaikan. Bahkan, mengkufurkan.

Kita saksikan di tayangan2 TV, pada saat-saat liburan itu, berbagai program tayangan film, musik, dll dikemas secara menarik ditawarkan untuk pemirsa anak-anak, dewasa hingga orang tua. Semuanya untuk membuat kita lalai, dengan duduk berjam-jam menonton TV dari pagi hingga larut malam. Masih banyak upaya lain orang kafir untuk menghancurkan Islam. Karena itu, berhati-hatilah dengan waktu luang. Kalau tidak bisa diisi dengan yang produktif, setidaknya isilah dengan yang tidak melalaikan.

Tidak ada yang tanpa batas di dunia ini. Karena sunnatullah dalam alam, semua tercipta dalam takaran tertentu, termasuk umur manusia. Kita semua akan mati, waktu-waktu yg kita lalui semuanya akan menghantarkan kita ke kematian, sehingga marilah kita isi sebaik-baiknya dengan beramal untuk bekal sesudah wafat. [QS. Al Anbiya’ (21) : 1]

1. Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).

Labels:

Materi Khutbah Jum’at Pertamaku di Masjid Al Jama’ Gadingan Banyuraden Sleman Yogyakarta, 9-11-2007

Pengelompokan umat Islam berdasarkan antusiasme/ gairah/ semangatnya


Jamaah Sholat Jum’at Masjid Al Jama' Gadingan Yang berbahagia dan semoga Dirahmati Allah..

Pertama2 dan yg paling utama, marilah kita panjatkan puji syukur atas nikmat iman, islam, keshtn, ksemptn, musim hujan & nikmat2 lain yg tdk mungkin bisa disebutkan apalagi dituliskan 1 per 1, bahkan jika seandainya air laut dijadikan sbg tintanya....

Yang kedua, marilah tidak henti2nya pula kita panjatkan sholawat+salam kpd Nabi Agung Muhammad.SAW, kelg, sahabat, yg tlah membebaskan umat manusia dr jaman kejahiliahan/ kegelapan menuju ke jaman yg penuh berkah dan nur ilahi, yaitu Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Semoga keselamatan juga tercurah kpd kita smua kaum muslimin yg tetap stia mengikuti sunnah2 nya hingga hari kiamat... Allahumma Amin..

Sebagai khotib Jum'at, perkenankan kami mengajak jamaah skalian untuk terus menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, dengan sebenar2nya takwa, meningkat dari waktu ke waktu, dari 1 jum’at ke jum’at berikutnya, dari 1 Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, hingga ajal kita menjemput, dan kita tergolong orang2 yg meninggal dgn khusnul khotimah.

Jamaah Sholat Jum’at Yg Dirahmati Allah…

Apabila kita cermati, Dlm kehidpn kita di dunia ini, jika dilihat dari antusiasme/ gairah/ semangatnya, umat Islam dapat digolongankan menjadi 3 kelompok : sebagaimana disebutkan pada ayat yg telah dibacakan diawal khutbah ini

32. Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. (Q.S. Al Fathir: 32).

Didalam penjelasan terjemahan disebutkan bahwa [1260] Yang dimaksud dengan orang yang Menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya Amat banyak dan Amat jarang berbuat kesalahan.

Kelompok 1 : MEREKA YANG “LEBIH DAHULU” DALAM BERBUAT KEBAIKAN. Mereka adalah Pioner!! Rangking 1. Apa yang memberikan kekuatan kepada MEREKA YANG “LEBIH DAHULU” ialah ketaatan mereka kepada Allah dan kerendahan hati mereka di hadapan-Nya.
Apa saja perintah dan larangan yg datang dari Allah & Rasul Nya ia akan bersikap : Sami’na wa ato’na ! Siap, laksanakan (Perintah) / Siap, tinggalkan! (Larangan).

Keimanan mereka yang tulus memberi mereka semangat yang besar untuk berlomba-lomba dalam memperoleh ridha Allah. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa mereka yang berusaha dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka akan diberi derajat yang tinggi di sisi Allah:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad demi membela agama Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nisa’: 95-6).

Jamaah jumat yg dimuliakan Allah..

Kelompok 2 : MEREKA YANG “PERTENGAHAN” adalah orang-orang yang lebih memilih jalan tengah daripada berusaha keras dengan hati dan jiwa mereka untuk memperoleh ridha Allah. Kadang smangat dlm ibadah, kdg males. Sebagaimana kebanyakan umat Islam di bulan Ramadhan.

Tak diragukan lagi, kondisi mereka diakhirat tidak akan sama dengan mereka yang lebih dahulu dalam beramal (Kelompok I).

Di samping itu, Allah telah menyebutkan KELOMPOK KETIGA di kalangan orang-orang Islam: yaitu mereka yang tertinggal dalam hal gairah untuk beramal. Sikap mereka digambarkan seperti ungkapan : Sami’na Wa ’ashaina. (kami dengar&kami maksiyati) ...

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).” (Q.s. an-Nisa’: 72).

"medan pertempuran" dapat berarti =mencari ma’isyah, kuliah, beramal sholih, melaksanakan printah, meninggalkan larangan.

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat yang dikutip sebelumnya dari Surat Fathir, orang-orang semacam itu menganiaya diri mereka sendiri, dan keadaan mereka di akhirat akan mencerminkan perbedaan itu.

Sementara mereka yang lebih dahulu dalam beramal akan memperoleh derajat tertinggi dalam pandangan Allah, tetapi mereka yang lalai akan melihat usaha mereka hilang kecuali jika mereka bertobat dan mengganti kelalaiannya. Dua ayat dari al-Qur’an dapat dikutip sebagai contoh tentang keadaan masing-masing :

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad demi agama Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. at-Taubah: 20).

“Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan pahala amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 19).

Termasuk dalam golongan manakah kita saat ini? Hati Kita sendiri yg bisa menilai. Apakah Kelp I (Pioner), Kelp II (Pertengahan), atau Kelp III (Pengekor). Mari tingkatkan, bertahap sesuai kemampuan kita masing-masing, jika masih di kelompok III berusaha menjadi Kelompok II, jika masih di kelompok II menjadi kelompok I.

Sesungguhnya surga tidak dapat diraih dgn bermalas2an.

Yogyakarta, 9-11-2007

Labels: